Penerbit Kantera, 27-February-2010 The Last Shogun, Kisah Hidup Tokugawa Yoshinobu (Sebuah resensi dari resensi66.wordpress.com) Sumber: J. Haryadi (http://resensi66.wordpress.com)
Judul Buku : The Last Shogun Penulis : Ryotaro Shiba Penerjemah: Latifa Ramonita Penerbit : Penerbit Kantera ISBN: 978-979-1924-03-0 Cetakan : I, Januari 2010 Tebal : 352 hlm Harga: Rp 49.900 ---------------------
Ryoto
Shiba, penerima anugerah Order of Culture pada tahun 1993 adalah salah satu penulis yang paling dihormati di Jepang. Ia banyak mempelajari
sejarah Jepang secara langsung. The Last Shogun merupakan novel
karyanya yang diambil dari sejarah Jepang dan termasuk novel paling
laris di Jepang. Karya penulis kelahiran tahun 1923 ini sudah
diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia. Buku ini sangat pantas dibaca
oleh penggemar novel bertema epik atau kepahlawanan.
Membaca buku ini akan membawa Anda hanyut ke masa lalu, ke dalam
suasana kerajaan dengan berbagai atribut budaya Jepang yang khas, unik
dan menarik. Kisah dalam buku ini dapat memberikan wawasan kepada anda
mengenai situasi politik Jepang pada masa itu.
The Last Shogun banyak mengupas kejadian sejarah Jepang sekitar
tahun 1860-an. Saat itu Jepang tengah dilanda krisis politik dalam
negeri yang memicu terjadinya pertumpahan darah antar kelompok penguasa
daerah hingga pemberontakan terhadap kaisar. Krisis politik tersebut
dipicu adanya dualisme kepemimpinan yaitu antara kelompok yang pro
bakufu atau keshogunan di satu sisi dengan kelompok yang pro kekaisaran
disisi lainnya. Sementara itu dari luar mendapat tekanan dari bangsa
Barat. Di lautan sudah menanti armada perang pimpinan Komodor A.S.
Matthew Perry yang mendesak Jepang agar mau membuka pelabuhan lautnya
atau menerima gempuran “kapal hitam” Perry yang terkenal dan memiliki
persenjataan mutakhir. Ultimatum A.S. ini mendapat dukungan pasukan
Inggris dan Rusia yang memiliki kepentingan yang sama, telah membuat
posisi Jepang semakin tersudut dan dilematis.
Disaat yang genting tersebut muncul-lah seorang pemuda penuh
semangat, cerdas dan progresif. Pemuda itu bernama Tokugawa Yoshinobu, seorang
tokoh muda yang namanya begitu terkenal dan disegani di seluruh Jepang.
Ia bukan saja pandai bermain pedang tetapi juga seorang pemikir dan
orator yang tiada tandingannya. Pemikirannya yang cemerlang terkadang
sulit diikuti dan dipahami oleh lawan-lawan politiknya, Ia lebih
mengedepankan diplomasi daripada perang yang dapat mengorbankan ribuan
jiwa. Kombinasi pemikir yang berilyan dan pendirian yang kokoh telah
menempatkan dirinya menjadi orang yang paling dihormati, disegani dan
diharapkan dapat membantu bangsanya bangkit dari keterpurukan. Hampir
semua kalangan mengharapkan ia tampil mengambil kendali sebagai
pimpinan pemerintahan dan mengambil sikap tegas terhadap kehadiran
bangsa Barat. Posisinya yang serba sulit, berada diantara dua kekuatan
besar yang saling berebut pengaruh dan kekuasaan yaitu antara kubu
keshogunan dan kubu kekaisaran.
Disini
terlihat kepiawaian Ryoto Shiba dalam membangun cerita bersetting
sejarah lokal negerinya tersebut. Penulis lulusan Universitas Osaka
yang pernah bergabung dalam Tentara Imprealis Jepang semasa Perang
Dunia II itu seolah-olah sangat mengenal secara detail kehidupan
Tokugawa Yoshinobu, tokoh sentral dalam novel setebal 352 halaman ini.
Kehidupan sang tokoh diceritakan dengan baik, mulai masa kelahirannya,
masa kanak-kanak dan remaja yang penuh didikan keras, kehidupan
dewasanya yang penuh dengan intrik-intrik politik, dendam, pengkhiatan,
amarah dan air mata, hingga masa tuanya yang bersahaja.
Sejak kecil bakat istimewa sudah dimiliki oleh Keiki, demikian
panggilan Tokugawa Yoshinubo sebelum menjadi shogun. Ia hidup dalam
bimbingan orang-orang terbaik dan terpilih. Keiki muda memang sudah
diproyeksikan oleh ayahnya yang ambisius untuk menjadi Shogun masa
depan. Nariaki sang ayah adalah seorang daimyo Mito, yaitu penguasa
daerah salah satu cabang dinasti Tokugawa, sedangkan Ibunya adalah
perempuan berdarah biru, keturunan dari pangeran Arisugawa, yaitu putra
adopsi kaisar Ninko. Sebelum kawin dengan ayahnya, ibunya dijuluki
Putri Tominomiya Yoshiko.
Sebagai keturunan bangsawan, kehidupan Keiki sangat berbeda dengan
saudara-saudaranya lainnya. Anak ke tujuh dari 21 bersaudara itu hidup
dengan gemblengan yang keras dan jauh dari kehidupan mewah dan enak
seperti halnya keluarganya di istana. Sejak lahir ia sudah dipisahkan
dengan orangtuanya dan dibesarkan dengan tangan-tangan keras para
samurai di propinsi kelahirannya, Edo. Ketika kecil ia sudah terbiasa
hidup dengan berbagai aturan yang ketat dan keras serta penuh disiplin
tinggi. Hal ini merupakan aturan yang dibuatkan oleh ayahnya sendiri
yang menginginkan Keiki kelak menjadi seorang shogun.
Tidur dengan posisi badan lurus, beralaskan jerami dengan bantal yang
terbuat dari kayu yang diletakkan diantara dua bilah pedang yang
berdiri tegak lurus seperti sepasang tanduk sudah menjadi kebiasaannya,
sehingga bila ia salah berbalik ketika tidur bisa mengakibatkan wajah
dan kepalanya terluka parah. Ayahnya juga mengajarkannya untuk membaca
berbagai buku, yang membuatnya menjadi bosan namun kelak sangat
berpengaruh terhadap pemikirannya yang begitu cemerlang sehinga
disegani lawan-lawannya. Didikan militer yang keras dan berbagai
didikan lainnya telah membentuk kepribadiannya menjadi seorang lelaki
yang tangguh, pemberani, penuh integritas sekaligus bijaksana dan
beretika.
Novel ini memang tidak menyuguhkan adegan pertempuran demi
pertempuran sebagaimana kehidupan keras para samurai Jepang, melainkan
lebih banyak menyuguhkan pergolakan politik yang begitu hebat, terutama
pada masa pemerintahan kaisar Komei. Tekanan bangsa Barat yang memaksa
Jepang membuka isolasinya terhadap dunia luar telah membuat terjadinya
friksi ditubuh petinggi negara, terutama antara kelompok bakufu atau
keshogunan yang berpikiran maju yang bersedia menjalin kerjasama dengan
bangsa Barat dengan kalangan istana Kaisar yang ingin mempertahankan
tradisi kuno, mengisolasi diri dari dunia luar dan tidak ingin
berhubungan dengan bangsa Barat yang dianggap mereka kaum barbar.
Apakah perjalanan Yoshinobu untuk menduduki jabatan Shogun berjalan
dengan mulus ? Mengapa Yoshinobu semula menolak tawaran untuk menjadi
Shogun ? Siapakah musuh Yoshinobu sebenarnya ? Bagaimana cara ia
mengalahkan musuh-musuh politiknya tersebut ? Berhasilkah misi
Yoshinobu menyatukan dua kekuatan yang saling bermusuhan ?
Bagaimanakah sikap Yoshinobu terhadap kedatangan bangsa Barat ?
Siapakah wanita yang dicintainya ? Bagaimana kisah hidupnya setelah
tidak menjadi shogun ?
Semua jawaban pertanyaan tersebut bisa anda temui dalam novel “The
last Shogun : Kisah Hidup Tokugawa Yoshinobu” yang bersampul coklat
dengan latar belakang gambar Shogun dan istana kekaisaran Jepang. Saya
menyarankan Anda membaca novel ini karena isinya penuh dengan filosofi
yang bisa dijadikan pelajaran, disamping itu novel ini memang pantas
menghiasi lemari buku anda sebagai bahan bacaan yang bermutu tinggi.
Jadi tunggu apalagi …? Jangan lewatkan untuk memiliki karya Ryotaro
Shiba yang fenomenal ini ? segera temukan di toko buku Gramedia dan
toko-toko buku kesayangan Anda.
Selamat membaca, semoga bermanfaat ! J. Haryadi http://resensi66.wordpress.com/2010/02/11/novel-the-last-shogun/
|