|  |
Book Review
Penerbit Kantera, 25-February-2010 The Last Shogun, Kisah Hidup Tokugawa Yoshinobu (Sebuah resensi dari sinarbulan.multiply.com) Sumber: Rini Nurul Badriah (http://sinarbulan.multiply.com)
Judul Buku : The Last Shogun Penulis : Ryotaro Shiba Penerjemah: Latifa Ramonita Penerbit : Penerbit Kantera ISBN: 978-979-1924-03-0 Cetakan : I, Januari 2010 Tebal : 352 hlm Harga: Rp 49.900 ---------------------
Apabila tidak menjenguk sampul belakang buku ini, kita akan tergiring pada dugaan bahwa The Last Shogun adalah biografi Tokugawa Yoshinobu. Dengan narasi bernapaskan memoar, novel yang bersumber dari sejarah kehidupan shogun ke-15 dalam keshogunan Tokugawa tersebut [fictionalized biography] menghidangkan peliknya perjalanan seorang pemimpin di Jepang pada tahun 1800-an.
Semenjak lahir, Keiki - demikian nama kecil Yoshinobu - telah menyandang ekspektasi besar keluarga Mito. Sang daimyo kecewa mendapati putra-putranya terkontaminasi hawa aristokrat yang feminin. Maka saat putra ketujuhnya ini menunjukkan tanda-tanda yang lebih menjanjikan, perlakuan ekstralah yang diterimanya. Bukan dimanjakan, melainkan digembleng berat. Bahkan tatkala sedang tidur, Keiki kecil diawasi agar posisi tubuhnya tidak cenderung 'gemulai'. Untuk itu, sang daimyo memerintahkan anak buahnya memasang pedang di kedua sisi badan Keiki di pembaringan supaya tetap lurus. Potensi cemerlang Keiki untuk mewujudkan cita-cita ayahnya terlihat, antara lain, dari ketegasannya meminta seorang pengawal sebagai guru alih-alih perawat.
Sudah barang tentu, proses mencapai posisi sesuai harapan sangat berliku-liku. Keiki sempat mengecap kehidupan dalam penjara pada masa Pembersihan Ansei, tidak lama setelah Shogun ke-14 diangkat. Ia menolak amnesti karena tidak ingin dikasihani. Keiki mengisi waktu dengan melukis, meneliti anatomi perempuan dalam buku-buku berbahasa Belanda, dan bertukang.
Walaupun relatif berat karena muatan politik dan sejarah yang dominan, novel ini disertai daftar nama berikut secuplik keterangan mengenai masing-masing orang yang terlibat dalam perjalanan kepemimpinan Keiki. Masih ditambah silsilah, peta, juga glosarium sebab di tubuh novel sendiri hanya terdapat beberapa catatan kaki sehingga penglihatan pembaca tidak semakin 'riuh'. Memang sebagaimana lazimnya fiksi sejarah, The Last Shogun bukan bacaan 'sepintas' sehingga memerlukan waktu cukup lama, di samping ukuran fontnya yang relatif kecil-kecil.
Siapakah Ryotaro Shiba? Pria yang terlahir dengan nama Teiichi Fukuda ini tersohor karena menulis novel-novel yang berbahan utama peristiwa historis di Jepang dan Asia Utara. Pada tahun 1959, mantan jurnalis jebolan Osaka School of Foreign Languages ini meraih Naoki Prize untuk novel Fukuro no Shiro ("The Castle of an Owl"). Karyanya yang terkemuka ialah Ryōma ga Yuku, novel sejarah mengenai seorang samurai yang berperan dalam Restorasi Meiji. Tidak hanya itu, Ryotaro Shiba menorehkan penanya di wilayah traveling dengan satu seri catatan perjalanan berjudul Kaidō wo Yuku [On the Highways], diterbitkan majalah mingguan Shūkan Asahi tahun 1971-1996. Pada tahun terakhir publikasi catatan inilah, tepatnya 16 Februari, sang penulis menutup mata.
Kendati terselip beberapa typo dan diksi yang bisa dipermolek lagi supaya penyampaiannya lebih komprehensif, The Last Shogun laik ditengok untuk memperterang pengetahuan tentang kepemimpinan yang penuh friksi.
Rini Nurul Badariah, penerjemah dan penyunting lepas http://sinarbulan.multiply.com
| |
|