|  |
Book Review
Penerbit Kantera, 16-Januari-2010 Cinta yang Menyelamatkan Jiwa (Resensi The Gargoyle: Koran Jakarta, Sabtu, 12 Desember 2009) Sumber: Ali Rif’an
Judul Buku : The Gargoyle
Penulis : Andrew Davidson
Penerjemah: Ary Nilandary
Penerbit : Penerbit Kantera
ISBN: 978-979-1924-01-6
Cetakan : I, Juni 2009
Tebal : 605 hlm
Harga: Rp 89.900
--------------------- Jika dilihat dari gambar cover-nya, novel ini barangkali akan
membuat kita bergidik penasaran. Terdapat gambar wanita telanjang
dengan gambar tato yang begitu menantang. Tetapi jika dibaca dengan
tuntas dan penuh penghayatan, percayalah, kita akan menemukan racikan
kata yang amat mengharukan sekaligus menegangkan.
Pertama, novel The Gargoyle adalah karya Andrew Davidson
yang meraih penghargaan First Fiction Award pada 2008, masuk dalam
beberapa daftar best seller seperti di New York Time Best Seller,
Publisher Weekly Best Seller, dan Canadian Best Seller dalam beberapa
minggu. Artinya, nilai kebagusan novel ini sudah mendunia.
Kedua,
novel ini bercerita tentang cinta tetapi bukan cinta biasa. Yakni
sebuah perjalanan cinta sejati yang mau menerima pasangan dengan apa
adanya. Pun tak lekang diterabas oleh ruang dan waktu.
Novel ini digawangi dengan cerita yang begitu dramatik
kemudian ditutup dengan polesan kisah yang amat nostalgik. Seorang
bintang film porno yang sedang berada dalam puncak kariernya mengalami
kecelakaan lalu lintas, mobilnya masuk jurang dan terbakar. Wajah pria
itu hancur. Tulangnya banyak yang patah. Wajah tampan dan alat vitanya
yang sedari awal menjadi andalan untuk bermain peran luluh lantah
berantakan. Sebab, sebotol barbon yang diapit di antara kedua pahanya
serentak menghanguskan alat vitalnya.
Penderitaan pun tak terelakkan. Semuanya itu membuat harga
dirinya hancur. Kariernya sebagai aktor dan produser film porno tamat.
Tujuh minggu lamanya ia koma di rumah sakit. Sepanjang itu pula ia
memikirkan cara untuk melakukan bunuh diri. Namun apa yang kemudian
terjadi? Di tengah dorongan untuk mengakhiri hidupnya itulah datang
seorang wanita bernama Marianne Engel, wanita yang mengaku telah
mengenalnya sejak tujuh ratus tahun silam. Ia mengungkapkan bahwa
mereka sebenarnya telah hidup dalam ikatan cinta. Marianne adalah
biarawati yang bertugas menyalin dan menerjemahkan buku di Biara
Engethal, sementara si aktor adalah tentara bayaran. Mereka bertemu
ketika si pria yang terluka dan terbakar akibat panah berapi yang
menancap di tubuhnya dibawa oleh temannya ke Biara Engethal untuk
mendapat perawatan.
Meski pada awalnya si bintang film porno itu tak begitu
mengupris Marianne, namun pada akhirnya ia mau dibawa ke rumah untuk
dirawat wanita yang berkarakter seperti malaikat itu. Mereka kemudian
hidup berdua layaknya suami istri. Cinta Marianne yang begitu tulus dan
dalam telah mampu membangkitkan semangat hidup mantan produser film
porno tersebut. Bahkan diceritakan bahwa Marianne pernah hampir
terengut nyawanya untuk menyelamatkan si pria itu. Namun di tengah
sakratul maut ia diberi kesempatan untuk tetap hidup dengan sebuah
syarat. Ia diberi ribuan jantung yang harus dibagikannya sampai habis,
sedangkan jantung terakhirnya harus diberikan pada kekasihnya di
kehidupannya kelak.
Novel ini bukan novel biasa. Ragam materi, cerita, serta
lompatan-lompatan waktu dari masa lalu ke masa kini tentunya membuat
pembaca harus sedikit lebih konsentrasi dalam membaca. Untungnya,
perpindahan waktu, loncatan alur, dan penampilan setting tersaji dengan
rapih sehingga pembaca sadar ke waktu dan kisah mana mereka sedang
berada. Pada titik ini, pembaca akan menyaksikan betapa penulis novel
ini memiliki imajinasi yang tinggi.
Lebih heroik lagi, pembaca juga akan diajak untuk
berselancar melintasi ruang dan waktu, berpindah-pindah dari abad ke
abad, mengunjungi berbagai tempat dan negara seperti Jerman, Jepang,
Italia, Islandia, Inggris, dan lain sebagainya. Begitu halnya bahasa
yang geyeng (cair), ritmis, renyah, dan mengalir juga tak luput
mengiring-iringi setiap jengkal lembar karya sastra ini. Untuk itu, dua
jempol untuk karya bagus ini!
Peresensi adalah Ali Rif’an, pengelola Rumah Pustaka FLP Ciputat. Sumber: Koran Jakarta (Desember, 2009)
| |
|