|  |
Book Review
Penerbit Kantera, 8-November-2009 Bukan Cinta Biasa (Resensi The Gargoyle: resensor.blogspot.com) Sumber: M. Iqbal Dawami
Judul Buku : The Gargoyle
Penulis : Andrew Davidson
Penerjemah: Ary Nilandary
Penerbit : Penerbit Kantera
ISBN: 978-979-1924-01-6
Cetakan : I, Juni 2009
Tebal : 605 hlm
Harga: Rp 89.900
---------------------
“L’amour n’est pas parce que mais melgre”, cinta itu bukan ‘karena’
tapi ‘walaupun’. Begitulah bunyi pepatah orang Perancis. Pepatah itu
dapat dimaknai bahwa cinta (sejati) itu mau menerima pasangan kita
dengan apa adanya dan tak lekang oleh ruang dan waktu. Itulah yang
dilakukan Marianne Angel, seorang wanita yang mencintai laki-laki yang
sekujur badannya telah gosong karena terbakar dalam novel The Gargoyle.
Gargoyle adalah makhluk mitologi eropa yang biasanya dibuat patungnya
di atap bangunan-bangunan kuno.
Novel The Gargoyle adalah karya perdana Andrew Davidson yang sungguh
memukau. Tak heran dia berhasil meraih penghargaan First Fiction Award
pada 2008. Novel ini juga masuk dalam beberapa daftar best seller
seperti di New York Time Best Seller, Publisher Weekly Best Seller, dan
Canadian Best Seller dalam beberapa minggu. Sebagai debut pertama yang
langsung menyabet penghargaan bergengsi patut diacungi jempol.
Boleh jadi raihan penghargaan di atas, akibat sang penulis yang hendak
ingin menjelaskan seperti apa cinta sejati itu. Dan kesimpulannya
adalah bahwa cinta sejati itu bukan disebabkan karena keindahan;
kecantikan, ketampanan, kecerdasan, dan sebagainya, apalagi
kesempurnaan, melainkan sebaliknya: penuh kekurangan. Paradigma cinta
yang diusung Andrew lewat The Gargoyle ini sungguh melawan arus dari
kehidupan orang barat.
Novel ini diawali dengan dentuman dahsyat. Seorang bintang porno nekat
menerjunkan mobilnya ke dalam jurang karena menghindari serbuan anak
panah imajiner yang ada dalam halusinasinya. Tubuhnya terbakar. Sebotol
barbon yang diapit di antara kedua pahanya serentak menghanguskan alat
vitalnya seperti daging panggang. Namun sebelum sakaratul maut
menjemputnya ia tersadar diri oleh dinginnya air sungai yang
menyelamatkan hidupnya.
Penderitaan pun tak terelakkan, seorang aktor porno—35 tahun—itu
kehilangan semuanya. Karir dan keberuntungannya tamat. Kulit dan alat
vitalnya (sebagai modal bintang film porno) yang menawan semuanya
hangus terbakar. Tujuh minggu lamanya ia koma di rumah sakit. Sepanjang
waktu di rumah sakit dihabiskannya untuk memikirkan metode bunuh diri.
Di tengah keputusasaannya, muncul seorang pengunjung misterius yang
bakal menghabiskan cerita dalam novel ini lebih dari 400 halaman.
Pengunjung tersebut ternyata seorang pasien juga yang menderita
skizofrenia dan manic-depressive bernama Marianne Angel. Ia muncul
dengan rambut yang nyaris awut-awutan dan pandangan matanya yang sulit
ditebak. Ia tiba-tiba membisikkan pada lelaki itu bahwa di antara
mereka adalah sepasang kekasih di abad 14, di Jerman. “Aku telah
menunggu begitu lamanya,” gadis itu berkata.
Tentu lelaki itu tak percaya meskipun gadis itu tengah mengenakan jubah
yang menampakkan potongan abad pertengahan. Sang mantan aktor itu tetap
berasumsi bahwa Marianne adalah penderita Skizrofenia. Pada awalnya,
lelaki itu terus mengabaikan “si gila” Marianne Engel. Namun, lambat
laun lelaki itu mulai percaya. Dan dengan kepercayaannya, menjadikannya
dirinya menjadi manusia yang lebih baik.
Novel ini menjadi semakin menarik dan menggetarkan. Di sepanjang cerita
yang terus berlanjut, Marianne tetap sebagai figur yang misterius.
Kesehatan jiwanya terus dipertanyakan. Dunia kesehariannya adalah
sebagai pemahat patung Gargoyle yang sangat ternama. Dia kerap tidur
bertelanjang di atas lempengan batu yang akan dipahatnya di ruang bawah
tanah kastil miliknya. “Aku menyerap mimpi-mimpi dari dalam batu itu…,
dan gargoyle-gargoyle di dalamnya memberitahu hal-hal yang kuperlukan
untuk membebaskan mereka.”
Tanpa syarat apa pun Marianne mencurahkan segenap perhatiannya untuk
pria berbadan gosong yang diyakini sebagai kekasihnya. Ia kisahkan
cerita-cerita fantastis tentang dongeng kesatriaan seorang pecinta
sejati yang berakhir di tiang gantungan. Serta kisah-kisah romantis
yang mengesankan cukup membuat mantan sang aktor porno itu mampu
melupakan niatnya untuk melakukan bunuh diri. Marianne juga bercerita
tentang bangsa Viking dan kekuasaan feodal Jepang yang sangat menarik.
Begitu juga petualangan memesona mengenai kisah romantik di antara
mereka sendiri yang terjadi jauh di abad pertengahan, Jerman, Tepatnya
ketika Marianne menjadi seorang penerjemah brilian di Biara Engelthal.
Sedang lelaki itu adalah seorang prajurit bayaran yang tengah sekarat
di terjang panah berapi, namun sebuah salinan buku Dante yang
disematkan di sakunya telah menyelamatkannya. Di situlah
getaran-getaran hati membawa mereka mengarungi hidup bersama meski
banyak aral yang melintang.
Marianne dan epik cintanya mampu menyeberangi jurang waktu dan tempat.
Cinta sejati yang menyatu di abad silam dan secara mengejutkan
dipertemukan kembali di masa sekarang. Inilah novel yang sangat
inspiratif untuk orang yang percaya adanya konsep cinta sejati; untuk
orang yang percaya adanya sesuatu yang lebih kuat dan lebih bermakna
dari sekadar seksualitas.
Semua kisah yang ada di dalam novel ini menegaskan bahwa jangan ada
lagi niat untuk melepaskan harapan. Pelajaran-pelajaran yang
didengungkan, cinta yang dipertemukan, dan kepercayaan yang diungkap,
semuanya menjadi sesi inti yang berasal dari kawah imajinasi sang
penulis.[]
M Iqbal Dawami
Penikmat teh dan gogodoh http://resensor.blogspot.com/2009/11/bukan-cinta-biasa.html
| |
|